28.8 C
Jakarta

Published:

Oleh:
Joni Oktavianus – Wasekjen DPN Lidik Krimsus  RI

Di era serba digital ini, remaja hidup dalam dunia yang cepat, penuh informasi, tapi juga penuh jebakan. Kenakalan remaja kini tak lagi soal bolos sekolah atau tawuran belaka. Dunia maya telah membuka gerbang pada bentuk-bentuk penyimpangan yang lebih gelap, cyberbullying, penyalahgunaan narkoba, perilaku seks bebas, hingga konsumsi konten pornografi ekstrem.

Puncaknya, publik dikejutkan oleh kemunculan grup Facebook bernama Fantasi Sedarah yang berisi konten inses atau penyimpangan seksual antar anggota keluarga. Grup ini bukan hanya sekadar tempat diskusi menyimpang, tapi juga jadi tempat berbagi gambar, cerita, bahkan fantasi pelaku.

Polisi telah menangkap enam pelaku dari berbagai daerah, dan proses hukum sedang berjalan. Ini bukan sekadar kasus kriminal, tapi tamparan keras terhadap kita semua, bahwa ruang digital sudah terlalu bebas dan terlalu jauh ditinggal oleh pengawasan.

Masalah ini bukan muncul tiba-tiba. Ada rantai penyebab Panjang, kurangnya perhatian keluarga, minimnya pendidikan karakter di sekolah, pengaruh buruk dari pergaulan, hingga lemahnya literasi digital. Ketika gadget jadi teman paling setia, dan orang tua sibuk sendiri, remaja jadi mudah tersesat di lorong gelap dunia maya.

Lantas, apa solusinya?
Orang tua harus jadi lebih dari sekadar penyedia kuota, mereka harus hadir sebagai pembimbing, pendengar, dan penjaga. Sekolah harus berhenti fokus pada angka nilai dan mulai fokus membentuk nilai hidup. Perlu meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak di dunia maya, membangun komunikasi terbuka, dan memberikan edukasi seksual yang sesuai usia.

Aparat Penegak Hukum, diharapkan untuk terus memantau dan menindak tegas penyebaran konten pornografi, khususnya yang melibatkan anak-anak, serta memperkuat regulasi yang melindungi anak dari kejahatan seksual di dunia digital. Menindak tegas pelaku penyimpangan digital dan memperkuat perlindungan anak di ranah online.

Dan yang paling penting, remaja sendiri harus diajak jadi bagian dari Solusi, berani berkata “tidak” pada hal yang menyimpang, dan “ya” pada hal yang membangun.

Kasus Fantasi Sedarah ini bukan hanya peringatan, tapi sirine bahaya. Kita tak bisa lagi anggap enteng kenakalan remaja di era digital. Jika dibiarkan, ini bukan hanya soal generasi yang rusak, tapi masa depan yang ikut runtuh. (***)

FOLLOW US

6,345FansLike
5,780FollowersFollow

Related articles

Recent articles